KISAH MANFAAT: Sahabat


Al Barra' bin Malik radhiallahu 'anhu

"ALLAH DAN SURGA"
 
Ia adalah salah Seseorang antara salah satu dari 2 bersaudara yg hidup mengabdi- kan diri buat Allah, serta telah mengikat janji dgn Rasulullah saw yg tumbuh dan berkembang seiring masa.

Yang pertama dengan nama Anas bin Malik khadam Rasulullah saw Ibunya yg ber- nama Ummu Sulaim membawa- nya pada Rasul, sedang usianya pada waktu tersebut baru 10 tahun, sembari mengatakan:" Ya Rasulallah! Ini Anas, pelayan anda yang bakal melayani anda, doakanlah dia kepada Allah!"

Rasulullah mencium anak tersebut antara kedua matanya setelah itu mendoakannya, doa mana senantiasa menuntun umurnya yang panjang ke arah kebajikan serta keberkahan. Rasul telah mendoakannya dengan ucapan- ucapan berikut:

" Ya Allah banyakkanlah harta serta anaknya, berkatilah dia serta masukkanlah dia ke surga"

Dia hidup, hingga usia 99 tahun serta diberi- Nya anak dan cucu yg banyak begitu pula Allah memberi- nya rizqi, berbentuk kebun yang luas serta subur, yang dapat menghalalkan panen buah- buahan 2 kali dalam setahun.

Yang kedua dari 2 bersaudara itu ialah Barra bin Malik. Dia termasuk kelompok terkemuka serta terhormat, menempuh kehidupannya dengan bersemboyan" Allah dan surga". serta barang siapa melihat- nya tengah berperang mempertahan- kan Agama Allah, tentu bakal melihat hal ajaib di balik ajaib!

Kala dia ber- hadapan pedang dgn orang- orang musyrik, Al- Barra bukan- lah orang yg cuma senantiasa mencari kemenangan, sekalipun kemenangan tergolong tujuan, tetapi tujuan akhir- nya merupakan mencari kesyahidan. Segala cita- citanya mati syahid, menemui ajal- nya di salah sesuatu gelanggang pertempuran dalam mempertahan- kan haq serta melenyap- kan kebathilan.

Ia tidak pernah ketinggalan dalam tiap pertempuran baik dengan Rasul maupun tidak. Pada sesuatu hari sahabatnya tiba mengunjunginya, dia lagi sakit, dibawanya air muka mereka sesudah itu katanya:

" Bisa jadi kamu khawatir saya wafat di atas tempat tidurku. Tidak, demi Allah, Tuhan tidak bakal menghalangiku mati syahid"

Allah betul- betul telah memberikan harapannya, dia tidak wafat di atas tempat tidurnya, tetapi dia gugur menemui syahid dalam salah satu peperangan yang terdahsyat.

Kepahlawanan Barra di medan perang Yamamah lumrah serta setimpal dengan sifat dan tabiatnya. Wajar buat seseorang pahlawan yang sehingga Umar mewasiatkan supaya dia jangan jadi komandan pasukan, oleh sebab keberaniannya yang luar biasa, keperwiraan serta ketetapan hatinya menghalau maut. Seluruh sifat- nya tersebut bakal menyebab- kan kepemimpinan- nya dalam pasukan membahaya- kan anak buah- nya dan bisa membawa kebinasaan.

Barra berdiri di medan perang Yamamah, dikala balatentara Islam yang lagi di bawah komando Khalid, bersiap- siap buat menyerbu. Dia berdiri& merasai detik- detik itu, ialah kala saat sebelum panglima- nya memerintah- kan maju, amat lama sekali, bertahun- tahun layak- nya. Kedua matanya yg tajam bergerak- gerak dgn cepat- nya menyelusuri seluruh medan tempur, seakan- akan lagi mencari- cari tempat bersemayam yg sebaik- baiknya buat seseorang pahlawan. Memanglah tidak ada yg menyibukkan- nya di antara seluruh perihal duniawi, kecuali tujuan Yang satu ini!

Diawali dengan berjatuhannya korban di pihak kalangan musyrikin penyeru kedhaliman serta kebathilan akibat ketajaman serta tebasan pedangnya al- Barra yang jitu. Setelah itu di akhir pertempuran, suatu sayatan pedang menimpa badannya oleh tangan seseorang musyrik, menyebabkan badan kasarnya jatuh ke tanah, sebaliknya badan halusnya menempuh jalannya membubung ke tingkatan yang paling tinggi ke mahligai para syuhada tempat kembalinya orang- orang yang beroleh berkah.

Seperti itu khayalannya dikala dia menantikan komando.

Khalid mengumandangkan takbir" Allahu Akbar", hingga majulah segala deretan barisan yang bersatu- padu menuju pada sasarannya, serta maju pula pengasyik maut Barra bin Malik.

Dia terus memburu anak buah& pengikut sang penipu Musailamah dgn pedang- nya, hingga mereka berjatuhan semacam daun kering di masa gugur. Tentara Musailamah bukan- lah tentara yg lemah& tidak banyak jumlah- nya. apalagi dia merupakan tentara murtad yg sangat beresiko. Baik bilangan ataupun perlawanan dan perjuangan habis- habisan prajurit- nya, adalah bahaya di atas segala bahaya!

Mereka membalas serbuan Kalangan Muslimin dengan perlawanan yang menggapai puncak kekerasannya sehingga hampir- hampir mereka mengambil alih kendali peperangan serta merubah perlawanan mereka menjadi serbuan balasan. Waktu itulah kecemaasan kegelisahan terasa merembes ke dalam barisan Kalangan Muslimin.

Melihat keadaan ini, para komandan serta pimpinan pasukan seraya terus bertempur berdiri di atas pelana, berseru dengan kalimat- kalimat yang membangunkankan semangat serta meneguhkan hati.

Barra bin Malik memiliki suara indah serta keras. Dia terpanggil oleh panglima Khalid, dimintanya buat buka suara. Hingga Barra juga menyerukan perkata yang penuh gemblengan semangat serta kepahlawanan, beralasan serta kuat. Wahai penduduk Madinah! Tidak ada Madinah untuk kamu saat ini. Yang ada cuma" Allah dan surga"

Perkataan itu menunjukkan jiwa pembicaranya, serta menarangkan sifat akhlaqnya. Benarlah, yang tinggal cumalah Allah dan surga! Sebab di dalam suasana serta tempat semacam ini, tidaklah wajar terdapat fikiran- fikiran kepada yang lain walaupun kota Madinah, ibu kota Negeri Islam, tempat rumah tangga, isteri dan anak- anak mereka! Sekarang tidak patut mereka berfikir ke situ! Karena apabila mereka sampai dikalahkan, sehingga tidak ada artinya kota Madinah lagi.

Kata- kata Barra ini menyerap laksana, laksana apakah?

Tiap tamsil apapun tidaklah tepat, sebab tidak seimbang dengan hasil yang ditimbulkannya.

Sehingga baiklah kita katakan saja, kata- kata Barra ini sudah menyerap serta itu telah lumayan. Serta dalam waktu yang tidak lama, suasana pertempuran pula kembali kepada keadaannya semula.

Kalangan Muslimin beroleh kemajuan bagaikan pendahuluan untuk sesuatu kemenangan yang gemilang. Serta orang- orang musyrikin tersungkur ke jurang kekalahan yang amat getir. Pada disaat itu

Barra bersama kawan- kawannya berjalan dengan bendera Muhammad saw hendak menggapai tujuan yang utama.

Orang- orang musyrik mundur serta melarikan diri ke belakang. Mereka berkumpul serta berlindung di sesuatu perkebunan besar yang mereka ambil selaku benteng pertahanan.

Pertempuran menjadi reda, serta semangat Muslimin agak surut. Jika begini naga- naganya, dengan siasat yang dipakai anak buah dan tentara Musailamah bertahan di perkebunan itu, bisa jadi suasana peperangan bakal berputar serta berganti arah lagi.

Sehingga di disaat yang genting itu, Barra naik ke sesuatu tempat yang ketinggian, kemudian berseru:" Wahai Kalangan Muslimin, bawalah saya serta lemparkan ke tengah- tengah mereka ke dalam kebun itu"

Bukankah telah kukatakan kepada kamu sekalian, kalau dia tidak mencari menang namun mencari syahid? Dia betul- betul sudah membayangkan kalau langkah ini merupakan penutup yang terbaik untuk kehidupannya, serta wujud yang terindah buat kematiannya. Sewaktu dia dilemparkan ke dalam kebun itu nanti, maka dia segera membukakan pintu untuk Kalangan Muslimin, serta bersamaan itu pedang- pedang orang musyrikin bakal melukai serta mengoyak- ngoyak badannya, namun di waktu itu pula pintu- pintu surga bakal terbuka lebar memperlihatkan kemewahan serta kenikmatannya buat menyambut mempelai baru serta mulia. 

Kisah Teladan Al Barra' Bin Malik r.a | KISMATku



Abu 'Ubaidah ibnul Jarrah radhiallâhu 'anhu

" Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka denga pertolongan yang datang daripada-Nya.Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya.Mereka itulah golongan Allah.Ketahuilah, bhwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung ". (Q.,s.58/al-Mujaadalah:22).

 Menurut beberapa ahli tafsir, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abu 'Ubaidah ibnul Jarrah.

Abu 'Ubaidah ibnul Jarrah

Ibnul Jarrah adalah seoerang panglima yang cerita kemenangan dan suksesnya menjadi pembicaraan dunia. Ia adalah seorang yang mengesampingkan gemerlapnya dunia yang palsu dan menerjunkan dirinya ke dalam berabagai medan perang mencari mati syahid, tetapi selalu saja Allah memberinya hidup.

Dia seorang yang kuat yang dapat dipercaya, yang pernah dipilih oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menjadi guru di Najran dan salah seorang diantara sepuluh orang yang dinyatakan akan mendapatkan surga.

Dia adalah soerang panglima yang pernah memohon kepada Allah supaya hari terakhirnya ditentukan di tengah-tengah tentaranya. Allah berkenan mengabulkan permohonannya itu.

Itulah garis-garis besar kepribadian amiinul ummah "kepercayaan umat Islam", Abu 'Ubaidah ibnul Jarrah, penyebar kalimat "Allahu Akbar" di negeri Syam dan sekitarnya.

Ada orang yang bertanya kepada Abdullah bin Umar, "bagaimana dengan Ibnul Jarrah?".

"Rahimahullah! Dia seorang yang selalu berwajah cerah, baik akhlaknya dan seorang pemalu", jawab Abdullah.

Sejarah tidak mencatat masa-masa mudanya bersama dengan rekan-rekan sebayanya, tetapi sejarah merekam semua langkahnya ketika menuju ke Baitul Arqam, bergabung dengan kelompok orang-orang Mukmin yang telah memilih Islam sebagai agamanya, beriman kepada Allah sebagai Tuhannya, dan menerima Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam sebagai nabi dan rasulNya.

Menurut sejarah, Ibnul Jarrah tergolong orang pertama y ang menyambut seruan Islam. Ia bersama beberapa orang rekannya; Utsman bin Mazh'un, 'Ubaidah ibnul Harits bin Abdul Muththalib, Abdurrahman bin Auf, dan Abu Salamah bin Abdul Asad, pergi menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sebelum beliau membukan sekolah dan dakwahnya di Darul Arqam. Beliau menawarkan Islam kepada mereka dan membentangkan apa-apa yang berkenaan dengan agama itu, lalu mereka menerima tawaran itu dengan puas dan ikhlas. Sejak saat itulah, ia dan rekan-rekannya itu menjadi manusia baru, seakan-akan terputus hubungannya dengan manusia lama yang bergelimang kejahiliahan dalam keyakinan dan penyembahan berhala.

Pada waktu kaum Quraisy memaklumkan perang terhadap kelompok orang mukmin yang tiada berdaya dan berdosa, dengan melakukan pengejaran dan penyiksaan di luar abatas kemanusiaan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memberikan izin kepada kelompok itu berhijrah ke Habasyah. Diantara para Muhajirin yang menyelamatkan agamanya dari keganasan kaum Quraisy itu ialah Abu 'U baidah ibnul Jarrah.

Meskipun sambutan dan penerimaan raja Habasyah sangat baik terhadap mereka, mereka diterima dengan hormat dan didekatkan dari majelisnya, semua kebutuhan dan hajat keluarganya dipenuhi, baik moral maupun material, namun semua itu tidak berarti bagi mereka daripada kehidupan di dekat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ; setiap hari mengikuti pelajaran dan bimbingannya, dalam upaya mempertebal keimanannya. Tidaklah heran, ketika mereka mendengar berita bahwa telah dicapai kesepakatan antara Muhammad dan kaum Quraisy, berita gembira itu membangkitkan semangat mereka  untuk segera pulang kembali ke Mekkah tanpa mengecek kebenarannya lagi. 
Setibanya mereka disana, mereka malah mendapat penyiksaan yang lebih ganas dari kaum Quraisy, sampai ada diantaranya yang tewas oleh dendam hitam yang memenuhi lubuk hati musuh terhadap tunas dakwah yang baru merintis itu. 

Akibat teror ganas kaum Quraisy itu, penduduk kota Mekkah hidup dalam ketakutan dan kegelisahan yang tiada terperikan. Ibnul Jarrah tak lama tinggal di Mekkah, begitu pula rekan-rekannya yang lain. Kaum Quraisy mengetahui bahwa Muhammad berhasil keluar menembus kepungannya dan pergi berhijrah ke Yatsrib, tempat yang dijadikan model dan landasan bertolak nya Islam dan kaum Muslimin, negara tempat menggembleng para pahlawan, negarawan, alim ulama yang akan dilepaskan ke seluruh penjuru dunia untuk membimbing dan memimpin umat manusia  ke jalan Tuhan Yang Maha Satu, dengan rasa puas dan ikhlas.

Jalan antara Mekkah dan Yatsrib menjadi saksi ketika Ibnul Jarrah melepaskan kendali kudanya menggulung bumi dan bersaing dengan angin, mengikuti jejak rekan-rekannya yang sudah mendahuluinya  ke Yatsrib. Ketika sampai di hadapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam di Madinah, ia hampir tidak dikenal lagi karena debu padang pasir yang ditempuh tanpa henti hampir menutupi wajahnya. Setiba di sana, ia disambut baik oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Mu'az.

Saad bin Mu'az adalah orang yang telah mempersembahkan diri dan harta bendanya di jalan Allah dan tidak sudi berkompromi dengan kaum Yahudi, sesudah mereka mengkhianati perjanjian yang sudah mereka tanda tangani bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, sehingga ia terluka parah dalam perang Ahzab. Ia memohon kepada Allah Ta'ala agar jangan dimatikan sebelum matanya puas melihat Yahudi Bani Quraizhah dihukum. Ternyata, Allah mengabulkan doanya. Bani Quraizhah menolak keputusan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan minta diputuskan oleh Sa'ad bin bin Mu'az, bekas sekutu mereka. Akhirnya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam meminta supaya Sa'ad memberikan keputusannya. Diputuskanlah; semua laki-laki Bani Quraizhah dibunuh, kaum wanita dan anak-anaknya ditawan dan harta bendanya dirampas.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berkomentar atas keputusan Sa'ad itu, "engkau telah memberikan keputusan dengan hukum Allah dari atas langit yang ke tujuh".

Sejak menginjakkan kakinya di Yatsrib, sejak itu pulalah Abu 'Ubaidah mnganggap bumi itu sebagai tanah air agama dan dirinya yang harus dipertahankan mati-matian. Ia melakukan tugas kewajibannya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Hal ini terlihat dari tidak pernah absennya di semua peperangan bersama dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam .

Dalam perang Badar, ia selaku tentara, harus senantiasa patuh kepada perintah panglimanya. Sebagai seorang mukmin, ia mempunyai pandangan, sikap dan garis tegas yaitu bahwa semua yang berperang di bawah panji  Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam yang mengucapkan kalimat tauhid, mereka adalah saudara, keluarga dan kawan-kawannya, meskipun berbeda asal-usul, warna kulit dan darahnya. Semua yang berperang di bawah bendera Quraisy atau sekutu mereka, mereka adalah musuh aqidah dan lawan dirinya, meskipun mereka keluarga terdekatnya.

Dengan logika dan pemahaman seperti itu terhadap aqidah dan agamanya, dan perannya sebagai seorang mukmin, maka ketika ia melihat ayahnya ikut menghunus pedang di tengah-tengah pasukan kaum musyrikin, membunuh saudara-saudaranya sesama mukmin, majulah ia menghampirinya, tetapi ayahnya menghindarinya. Walaupun demikian, ia mengejarnya dan memberikan pukulan yang mematikan.

Ayahnya adalah kafir, menyekutukan Tuhannya dengan yang lain; kafir terhadap Tuhan Yang menciptakannya; ia mengangkat senjata hendak menumpas agama Tuhannya dan para pendukung agama tersebut. Oleh karena itu, ia sudah tidak berguna lagi bagi Tuhannya. Siapa yang hidupnya sudah tidak berguna bagi Tuhannya niscaya tidak berguna juga bagi seluruh umat manusia.

Dalam perang Uhud, ketika peperangan itu sudah mencapai puncaknya, dimana pihak musuh sudah berhasil mengepung ketat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan menjadikan beliau sebagai sasaran tunggal anak panah dan senjata lainnya, Abu 'Ubaidah dan beberapa orang rekannya menghunus pedangnya untuk melindungi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dari serangan ganas musuh sehingga darah mengucur dari wajah beliau dan beliau mengusahpnya dengan tangan kanannya seraya mengucapkan, "Bagaimana suatu kaum akan menang sedangkan mereka membiarkan nabi yang menuntunnya kepada Tuhannya lerluka wajahnya?".

Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallâhu 'anhu melukiskan peran yang dimainkan Abu 'Ubaidah dalam perang Uhud itu, "pada waktu itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam terkena dua kali bidikan anak panah pada tulang pipinya, lalu aku segera pergi menghampirinya. Ternyata dari sebelah timur ada orang lain yang mendahuluiku, menghampirinya dengan cepat pula. Aku berkata, "Ya Allah, jadikanlah hal itu sebagai kepatuhan kepada Mu".

Sesudah itu, sampailah aku di dekat Rasulullah. Aku melihat Abu 'Ubaidah sudah sampai terlebih dahulu, lalu ia berkata, "Ya Abu Bakar, aku mohon kau membiarkan aku melepaskan panah itu dari wajah Rasulullah !". Aku membiarkan Abu 'Ubaidah melepaskan  mata anak panah itu dengan gigi depannya dan ia berhasil mencabutnya, tetapi ia terjatuh ke tanah dan giginya pun patah.

Selanjutnya, ia mencabut mata anak panah yang kedua hingga gigi depannya yang satunya patah juga. Sejak itu, Abu 'Ubaidah ompong gigi depannya.

Dalam perang Dzatus Salaasil, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menugaskannya memimpin pasukan para shahabatnya (diantaranya Abu Bakar dan Umar) sebgai bala bantuan untuk Amru bin Ash. Setibanya pasukan itu, Amru berkata kepadanya, "Ya Aba 'Ubaidah, kau didatangkan sebagai bala bantuan untuk pasukanku".

Abu 'Ubaidah menjawab, "Tidak.. Aku dengan pasukanku dan kamu dengan pasukanmu, masing-masing memimpin pasukannya".

Amru bin Ash menolak adanya banyak pemimpin, ia tetap menganggap pasukan Abu 'Ubaidah yang baru datang itu harus ada di bawah pimpinannya sebagai bala bantuan.

Abu 'Ubaidah berkata, "Ya Amru, Rasululllah Shallallahu 'alaihi wasallam melarangku , kalian berdua jangan berselisih!. Apabila engkau membangkang kepadaku, biarlah aku yang patuh kepadamu!".

Alangkah indahnya kata-kata dan sikapnyaitu?".

Demikianlah, Islam berhasil menciptakan manusia model, insan kamil yang diasuh Tuhannya, ruh dan kalbunya dimumikan dari sifat-sifat kebumian dan keremehan manusiawi.

Alangkah jujurnya kata-kata itu dalam nilai kejantanan seseorang, "kalau kau membangkang kepadaku, biarlah aku yang patuh kepadamu", pada saat kepentingan jamaah kaum muslimin dan agama Islam menuntut persatuan dan kekompakan.

Pada suatu waktu, datanglah perutusan dari Najran kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam meminta supaya bersama mereka dikirimkan seorang agama, mengajarkan hukum-hukum syariat kepada mereka, dan merangkap sebagai penengah (hakim) apabila terjadi perselisihan antara mereka.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berjanji kepada mereka, "nanti malam, kalian datang kembali, aku akan mengirimkan bersama kalian seorang yang terpercaya".

Umar ibnul Kaththab bercerita tentang hal itu, "aku belum pernah ingin mendapatkan pangkat lebih dari itu apda waktu itu, mudah-mudahan akulah orang yang dimaksudkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam itu, Aku pergi menantikan waktu zhuhur. Sesudah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam selesai shalat zhuhur, beliau menoleh ke kanan dan ke kiri seperti ada yang dicari. Aku menjulurkan kepalaku supaya beliau melihatku, tetapi beliau masih saja mencari hingga beliau melihat Abu 'Ubaidah ibnul Jarrah, lalu beliau berseru: "kau pergi bersama mereka dan putuskan sengketa yang terjadi antara mereka dengan sebenar-benarnya".

Demikian keterangan yang jujur dari Umar ibnul Khaththab.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tiap-tiap umat memiliki orang kepercayaan dan kepercayaan umat ini adalah Abu 'Ubaidah ibnul Jarrah".
Tepat sekali sebda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam itu, ibnul Jarrah adalah seorang kepercayaan dalam akhlaknya, tidak seorang muslimpun merasa dirugikan olehnya.

Ia kepercayaan dalam agamanya, ia berusaha keras menggalakkan dakwah secara merata. Ia kepercayaan dalam memelihara batas-batas negara sehingga semua pihak menghargai kewibawaan dan kekuasaannya.

Bagaimana tidak demikian, dia adalah salah seorang dari sepuluh orang pertama yang masuk Islam dan salah seorang dari sepuluh orang yang dinyatakan akan mendapatkan surga.

Sesudah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam wafat, banyak orang yang datang hendak membaiat Abu 'Ubaidah menjadi khalifah, tetapi ia menjawab, "apakah kalian datang kepadaku sedangkan di tengah-tengah umat ini masih ada orang yang ketiga".

Yang ia maksudkan adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, sesuai dengan apa yang disabdakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam kepada Abu Bakar di Gua Hira', "Di waktu dia berkata kepada temannya,'janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Allah beserta kita". (Q,,s. at-Taubah: 40).

Pada waktu itu, Umar ibnul Khaththab radhiallâhu 'anhu termasuk salah seorang yang datang kepadanya, seraya berkata, "ulurkan tanganmu, aku akan membaiat kau, hai kepercayaaan umat, seperti yang dikatakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ".

Abu 'Ubaidah, menjawab, "belum pernah aku meolihat kau tergelincir seperti sekarang sejak engkau Islam. Apakah kau akan membaiatku, sedangkan ash-Shiddiq, shahabat kedua Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam di Gua Hira', ada di tengah-tengah kita?".

Rupanya teguran Abu 'Ubaidah itu menyadarkan Umar. Ia lalu mengirimkan orang untuk memanggil Abu Bakar di rumah Aisyah, Ummul Mukminin, lalu ketiganya pergi ke Saqifah Bani Saa'idah. Setibanya disana, mereka mendapatkan kaum Anshar sedang melakukan rapat. Abu Bakar bertanya keheranan, "ada apa ini?".

Mereka menjawab, "dari kami diangkat amir dan dari kalian juga diangkat amir".

Abu Bakar ash-Shiddiq berkata: "para amir dari kami dan para wazir (menteri) dari kalian". Sambutnya lagi, "aku setuju kalau kalian mengangkat salah seorang diantara dua orang ini; Umar ibnul Khaththab dan Abu 'Ubaidah, kepercayaan umat ini".

Kedua orang itu menyatakan, "Tidak mungkin ada seorangpun yang mengungguli kedudukanmu, ya Aba Bakar!". Keduanya lalu membaiatnya.
Itulah para pengikut dan shahabat Muhammad, yang telah mendapatkan gemblengan Al-Qur'anul Karim dan mendapatkan rintisan tata cara hidup melalui petunjuk dan pengajarannya.

Suatu waktu, Umar ibnul Khaththab radhiallâhu 'anhu selaku khalifah Islam mengangkat Abu 'Ubaidah menjadi komandan pasukan kaum muslimin di Syam, menggantikan Khalid bin Walid .  Pada waktu itu, Khalid sedang ada di medan perang menggempur musuh-musuh Islam. Ia tidak segera memberitahukan berita pengangkatannya dan pemecatan Khalid itu, sebagai penghormatan dan penghargaan atas jasa-jasanya. Sesudah Khalid mendengar berita pemecatannya dan pengangkatan Abu 'Ubaidah sebagai penggantinya maka dalam serah terima jabatan itu, Khalid berkata, "kini, telah diangkat untuk memimpin kalian kepercayaan umat ini, Abu 'Ubaidah ibnul Jarrah".

Abu 'Ubaidah menyambut perkataan itu, "aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Khalid adalah salah satu dari pedang-pedang Allah, ya pemuda idaman".

Itulah jabatan kepanglimaan, tetapi tidak menyombongkan mereka. Itulah kepangkatan dan jabatan tinggi dunia, namun mereka tidak lupa daratan karena risalah atau misi mereka terbatas dan tugas mereka jelas, seperti yang dikatakan Rabi' bin Amir, "Allah telah mengirimkan kami untuk mengeluarkan orang yang Dia kehendaki diantara hamba-hambaNya, dari mengabdikan diri kepada hambaNya kepada pengabdian diri kepada Allah semata".

Kalau jabatan dan kepangkatan tidak bisa menggiurkan dan menggugurkan mereka, begitu pula dengan bujuk rayu dunia lainnya.

Pada suatu waktu, Umar ibnul Khaththab mengirim uang kepada Abu 'Ubaidah sebesar empat ribu dirham dan empat ratus dinar, lalu ia berpesan kepada pesuruhnya, "perhatikan apa yang dilakukannya".

Sesudah uang itu dibagi-bagikan, pesuruh itu melaporkan kepada khalifah Umar. Umar berkata: "Alhamdulillah, yang menjadikan dalam kalangan kaum muslimin orang yang melakukan hal itu".

Ketika khalifah Umar datang ke negeri Syam, ia dijemput oleh para perwira militer dan pejabat sipil. Ia bertanya, "mana saudaraku?".


Mereka bertanya keheranan, "siapa dia, ya Amiral Mukminin?".

Ia menjawab,"Abu Ubaidah".

Mereka menjawab, "Ia segera datang".


Tak lama, ia datang dengan menunggang seekor unta, lalu ia memberikan salam kepada khalifah. Khalifah lalu memerintahkan para penyambutnya pulang kembali dan membiarkannya bersama Abu 'Ubaidah. Keduanya pergi ke rumah Abu 'Ubaidah. Setiba di sana, Khalifah Umar tidak melihat sesuatu apapun selain pedang dan perisainya. Umar bertanya kagum, "mengapa kau tidak memiliki sesuatu?".

Abu 'Ubaidah menjawab, "ya Amiral Mukminin, ini pun akan menghantarkan kita ke tempat peristirahatan kita".

Umar tidak melihat perabotan dan perhiasan mewah di rumahnya karena ia bukan seorang yang senang duduk-duduk di rumah, tetapi seorang lapangan yang selalu memandang jauh kepada apa yang ada di balik kehidupan ini.

Kisah Teladan Abu 'Ubaidah Ibnul Jarrah r.a | KISMATku



Abu Sufyan Bin Haris

(Habis Gelap terbitlah Terang)
 
Ia adalah Abu Sufyan bin Harits, dan bukan Abu Sufyan bin Harb ayah Mu'awiyah. Kisahnya merupakan kisah kebenaran setelah kesesatan, sayang setelah benci dan bahagia setelah celaka .... Yaitu kisah tentang rahmat Allah yang pintu-pintu-nya terbuka lebar, demi seorang hamba menjatuhkan diri diharibaan-Nya, setelah penderitaan yang berlarut-larut ... !

Bayangkan, waktu tidak kurang dari 20 tahun yang dilalui Ibnul Harits dalam kesesatan memusuhi dan memerangi Islam ... ! Waktu 20 tahun, yakni semenjak dibangkitkan-Nya Nabi saw. sampai dekat hari pembebasan Mekah yang terkenal itu. Selama itu Abu Sufyan menjadi tulang punggung Quraisy dan sekutu-sekutunya, menggubah syair-syair untuk menjelekkan serta menjatuhkan Nabi, juga selalu mengambil bagian dalam peperangan yang dilancarkan terhadap Islam.

Saudaranya ada tiga orang, yaitu Naufal, Rabi'ah dan Abdullah, semuanya telah lebih dulu masuk Islam. Dan Abu Sufyan ini adalah saudara sepupu Nabi, yaitu putera dari pamannya, Harits bin Abdul Mutthalib. Di samping itu ia juga saudara sesusu dari Nabi karena selain beberapa hari disusukan oleh ibu susu Nabi, Halimatus Sa'diyah.

Pada suatu hari nasib mujurnya membawanya kepada peruntungan membahagiakan. Dipanggilnya puteranya Ja'far dan dikatakannya kepada keluarganya bahwa mereka akan bepergian. Dan waktu ditanyakan ke mana tujuannya, jawabnya ialah:

"Kepada Rasulullah, untuk menyerahkan diri bersama beliau kepada Allah Robbul'alamin .. . !"

Demikianlah ia melakukan perjalanan dengan mengendarai kuda, dibawa oleh hati yang insaf dan sadar ....

Di Abwa' kelihatan olehnya barisan depan dari suatu pasukan besar. Maklumlah ia bahwa itu adalah tentara Islam yang menuju Mekah dengan maksud hendak membebaskannya. Ia bingung memikirkan apa yang hendak dilakukannya. Disebabkan sekian lamanya ia menghunus pedang memerangi Islam dan menggunakan lisannya untuk menjatuhkannya, mungkin Rasulullah telah menghalalkan darahnya, hingga ia bila tertangkap oleh salah seorang Muslimin, ia langsung akan menerima hukuman qishas. Maka ia harus mencari akal bagaimana caranya lebih dulu menemui Nabi sebelum jatuh ke tangan orang lain.

Abu Sufyan pun menyamar dan menyembunyikan identitas dirinya. Dengan memegang tangan puteranya Ja'far, ia berjalan kaki beberapa jauhnya, hingga akhirnya tampaklah olehnya Rasulullah bersama serombongan shahabat, maka ia menyingkir sampai rombongan itu berhenti. Tiba-tiba sambil membuka tutup mukanya, Abu Sufyan menjatuhkan dirinya di hadapan Rasulullah. Beliau memalingkan muka daripadanya, maka Abu Sufyan mendatanginya dari arah lain, tetapi Rasulullah masih menghindarkan diri daripadanya.

Dengan serempak Abu Sufyan bersama puteranya berseru:
"Asyhadu alla ilaha illallah. Wa-asyhadu anna Muhammadar Rasulullah . Lalu ia menghampiri Nabi saw. seraya katanya: "Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Rasulullah".

Rasulullah pun menjawab:
"Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Abu Sufyan!"

Kemudian Nabi menyerahkannya kepada Ali bin Abi Thalib, katanya: -- "Ajarkanlah kepada saudara sepupumu ini cara berwudlu dan sunnah, kemudian bawa lagi ke sini".

Ali membawanya pergi, dan kemudian kembali. Maka kata Rasulullah: "Umumkanlah kepada orang-orang bahwa Rasulullah telah ridla kepada 
Abu Sufyan, dan mereka pun hendaklah ridla pula…!"

Demikianlah hanya sekejap saat…! Rasulullah bersabda:
"Hendaklah kamu menggunakan masa yang penuh berkah…!" Maka tergulunglah sudah masa-masa yang penuh kesesatan dan kesengsaraan,  dan terbukalah pintu rahmat yang tiada terbatas....                  

Abu Sufyan sebetulnya hampir saja masuk Islam ketika melihat sesuatu yang mengherankan hatinya ketika perang Badar, yakni sewaktu ia berperang di pihak Quraisy. Dalam peperangan itu, Abu Lahab tidak ikut serta, dan mengirimkan 'Ash bin Hisyam sebagai gantinya. Dengan hati yang harap-harap cemas, ia menunggu-nunggu berita pertempuran, yang mulai berdatangan menyampaikan kekalahan pahit bagi pihak Quraisy.

Pada suatu hari, ketika Abu Lahab sedang duduk dekat sumur Zamzam bersama beberapa orang Quraisy, tiba-tiba kelihatan oleh mereka seorang berkuda datang menghampiri. Setelah dekat, ternyata bahwa ia adalah Abu Sufyan bin Harits.

Tanpa bertangguh Abu Lahab memanggilnya, katanya: - "Mari ke sini hai keponakanku! Pasti kamu membawa berita! Nah, ceritakanlah kepada kami bagaimana kabar di sana …!"

Ujar Abu Sufyan bin Harits: - "Demi Allah! Tiada berita, kecuali bahwa kami menemui suatu kaum yang kepada mereka kami serahkan leher-leher kami, hingga mereka sembelih sesuka hati mereka dan mereka tawan kami semau mereka ...! Dan Demi Allah! Aku tak dapat menyalahkan orang-orang Quraisy Kami berhadapan dengan orang-orang serba putih mengendarai kuda hitam belang putih, menyerbu dari antara langit dan bumi, tidak serupa dengan suatu pun dan tidak terhalang oleh suatu pun…!"

-- yang dimaksud Abu Sufyan dengan mereka ini ialah para malaikat yang ikut bertempur di samping Kaum Muslimin -

Menjadi suatu pertanyaan bagi kita, kenapa ia tidak beriman ketika itu, padahal ia telah menyaksikan apa yang telah disaksikannya?

Jawabannya ialah bahwa keraguan itu merupakan jalan kepada keyakinan. Dan betapa kuatnya keraguan Abu Sufyan bin Harits, demikianlah pula keyakinannya sedemikian kukuh dan kuat jika suatu ketika ia datang nanti .... Nah, saat petunjuk dan keyakinan itu telah tiba, dan sebagai kita lihat, ia Islam, menyerahkan dirinya kepada Tuhan Robbul'alamin ... !

Kisah Teladan Abu Sufyan Bin Haris | KISMATku



ABU SUFYAN BIN HARB radhiallâhu 'anhu

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan. Supaya Allah memisahkan (golongan) buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya diatas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahanam. Mereka itulah orang-orang yang merugi." (al-Anfaal: 36-37)

  Menurut keterangan beberapa ahli tafsir, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abu Sufyan bin Harb radhiallâhu 'anhu.

Abu Sufyan bin Harb radhiallâhu 'anhu.

Abu Sufyan bin Harb terkenal sebagai salah seorang tokoh Quraisy pada zaman Jahiliah.

Dia seorang saudagar terkenal, banyak mengenal keinginan pasar. Sebagai tokoh masyarakat Quraisy, ia banyak mengetahui gaya hidup masyarakatnya. Ia juga seperti yang dikatakan banyak orang, antara lain al-'Abbas bin Abdul Muththalib, senang dipuji dan dibanggakan orang.

Ia dilahirkan sepuluh tahun sebelum terjadinya penyerbuan tentara gajah ke Mekkah. Ia sering memimpin kafilah perdagangan kaum Quraisy ke negeri Syam dan ke negeri 'ajam (selain Arab) lainya. Ia suka keluar dengan membawa panji para pemimpin yang dikenal dengan 'Al-'Uqab". Panji itu tidak dipegang melainkan oleh pemimpin Quraisy. Kalau terjadi peperangan, panji itu pun hanya dipegang olehnya.

Putranya, Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiallâhu 'anhu adalah seorang penulis wahyu. Ia pernah diangkat menjadi gubernur negeri Syam sebelum pemerintahan Khalifah Umar ibnul-Khaththab radhiallâhu 'anhu. Putrinya, Ramlah binti Abu Sufyan radhiallâhu 'anha. (Ummu Habibah), adalah istri Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam . Dan termasuk salah seorang dari Ummahaatul Mukminin radhiallahu 'anhunna.

Ummu Habibah, istri Abdullah bin Jahsy, pergi berhijrah ke negeri Habasyah bersama dengan suaminya. Di negeri nun jauh itu tiba-tiba suaminya tergoda masuk agama Nashrani. Karenanya, ia minta cerai. Sesudah berakhir 'iddahnya, Raja Najasyi memanggilnya seraya berkata kepadanya, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam telah menulis surat kepada saya untuk mengawinkan anda dengan beliau" .

Ramlah lalu berkata, "semoga Allah akan menggembirakan dan membahagiakan Paduka tuan juga!"

Ramlah pun akhirnya menjadi isteri Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Ketika Abu Sufyan mendengar berita perkawinan puterinya itu dengan Rasulullah, ia berkata, "Unta jantan ini semoga tidak dipotong hidungnya!"

Abu Sufyan mendengar dakwah yang dikumandangkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan ternyata dia merupakan orang yagn paling gigih melawan dan memeranginya. Dia pernah juga menyertai delegasi kaum Quraisy yang dikirim menemui Abu Thalib, meminta kepadanya supaya mau menyerahkan keponakannya (Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam) untuk disembelih oleh mereka, dengan syarat akan menggantikannya dengan seorang pemuda Quraisy lainya yang mereka pandang lebih mendatangkan keberuntungan bagi mereka semua.

Dia juga pernah mengadakan persekutuan jahat dengan pemimpin Quraisy lainnya terhadap Rasulullah  Shallallahu 'alaihi wasallam dan kaum muslimin, dengan mendatangkan surat pernyataan memblokade Bani Hasyim, yaitu tidak mengadakan hubungan perkawinan dan jual-beli dengan mereka.

Tiba saatnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan kaum muslimin pergi berhijrah ke Madinah. Ternyata, kaum muslimin hidup aman dan berbahagia di negeri yang tentram ini.

Pada suatu saat, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengetahui bahwa Abu Sufyan sedang dalam perjalanan dari Syam ke Mekkah, memimpin kafilah dagang kaum Quraisy, kaum yang selama lebih dari sepuluh tahun telah menyiksa dan menyengsarakan mereka, yang telah mengusir mereka keluar dari negerinya dan juga merampas harta kekayaannya. Abu Sufyan sendiri terlibat dalam perbuatan jahat dan keji itu.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memberitahukan hal itu, terutama kepada kaum Muhajirin, "Kafilah dagang Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan segera akan melintasi daerah kita. Marilah kita keluar mencegatnya. Barangkali Allah akan menggantikan apa-apa yang telah mereka rampas dari kita dahulu!"

Ketika tiba di perbatasan Hijaz, Abu Sufyan mulai dirundung firasat tidak enak. Ia selalu bertanya kepada setiap orang atau kafilah yang datang dari jurusan Madinah dengan perasaan was-was dan takut. Akhirnya ia mendengar dari salah satu sumber yang meyakinkan bahwa Muhammad telah mengerahkan orang-orangnya untuk mencegat kafilah yang dipimpinnya.

Abu Sufyan lalu membayar seorang kurir untuk mengirimkan kabar tentang hal itu ke kota Mekkah, namanya Dhamdham bin Amru al-Ghifari. Dalam pesannya itu, ia berharap supaya kaum Quraisy mengirimkan pasukannya untuk melindungi kafilah yang dipimpinnya dari serangan Muhammad dan para sahabatnya.

Ternyata diluar dugaan, Abu Sufyan berhasil menempuh jalan keluar dari kepungan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam. Ia segera mengirim kurir yang lain untuk menemui kaum Quraisy yang hendak  melindungi kafilahnya. Ia berkata, "Kalian keluar untuk menyelamatkan kafilah, harta, dan orang-orang kalian. Kini, semuanya itu sudah diselamatkan oleh Allah. Kami harap kalian segera kembali ke Mekkah".

Abu Jahal berkata kepada anggota pasukannya , "Demi Allah, kami tidak akan kembali hingga sampai ke Badar. Disana, kami akan berdiam tiga hari tiga malam, bersuka ria, memotong ternak, makan-makan, minum-minuman keras, dan wanita menyanyi dan menari agar  bangsa Arab mendengar dan mengetahui perjalanan dan berkumpulnya kami, dan senantiasa menakuti kami. Ayo jalan terus!"

Terjadilah peperangan di Badar antara pasukan yang dipimpin Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan pasukan yang dipimpin Abu Jahal. Dalam peperangan itu, Abu Jahal dan banyak tokoh Quraisy lain tewas, dan banyak juga yang tertawan. Diantara yang tertawan itu adalah Abul 'Ash bin ar-Rabi', suami Zainab binti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam . Kaum Quraisy mengirimkan tebusan untuk pembebasan para tawanannya, sedangkan Zainab binti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengirimkan liontin pemberian ibunya, Khadijah binti Khuwalid.

Setelah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melihatnya, lalu ia bersabda kepada para sahabatnya dengan penuh haru, "Kalau kalian ridha melepaskan tawanannya dan mengembalikan hartanya, silahkan!"
Mereka menyambutnya, "Baiklah, ya Rasulullah!"

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam meminta janji Abul 'Ash bahwa ia akan melepaskan putrinya, Zainab, pergi ke Madinah. Untuk itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam telah mengirimkan Zaid bin Haritsah dan seorang lainnya dari orang Anshar untuk mengawalnya. Rasulullah bersabda kepada orang itu, "Kalian berdua hendaklah menunggu kedatangan Zainab di Lembah Ya'jaj kemudian menyertainya hingga datang ke sini".

Sesudah Abul 'Ash tiba di Mekkah, ia langsung memerintahkan Zainab (isterinya) pergi ke Madinah untuk menyusul ayahnya. Sesudah keberangkatannya dipersiapkan, ia meminta kepada saudaranya, Kinanah bin ar-Rabi', untuk mengawal keberangaktan isterinya itu. Kinanah berangkat  di siang hari dengan mengendarai unta, membawa panah dan busurnya, sedangkan sayyidatina Zainab di atas haudaj.

Keluarnya Zainab ini sempat membuat ketegangan di kalangan kaum Quraisy yang baru kalah perang di Badar. Mereka mengejarnya dan berhasil menyusulnya di suatu tempat yang bernama Dzi Thuwa. Orang yang pertama berhasil mengejarnya ialah Hubar bin al-Aswad bin Abdul Muththalib bin Ased.

Kinanah dengan cekatan menghadang Hubar seraya berkata, "Demi Allah, jangan ada yang mendekati kami. Kalau tidak, aku tidak ragu-ragu melepaskan panahku ini". Orang-orang pun menjauh darinya.

Tak lama setelah itu, Abu Sufyan datang dengan rombongannya hendak melerai kedua rombonga itu. Ia berkata: "Kinanah! Masukkanlah anak panahmu. Kami akan berbicara denganmu". Ia pun lalu memasukkan anak panahnya ke sarungnya.

Abu Sufyan lalu  menasehatinya: "Kamu tidak tepat membawa keluar wanita itu di siang hari, padahal kamu tahu benar apa yang telah dilakukan Muhammad terhadap tokoh kita di Badar baru-baru ini. Dengan mengeluarkan putrinya di siang hari dari tengah-tengah kita, akan menimbulkan  anggapan pada masyarakat bahwa kita melakukannya dalam keadaan hina dan lemah. Kami tidak berkepentingan untuk memisahkannya dari ayahnya, namun kami ingin wanita itu dibawa dahulu ke Mekkah, sampai suara-suara yang membicarakan kekalahan perang di Badar itu usai, barulah kamu membawanya keluar secara diam-diam.

Kinanah membawa Zainab kembali lagi ke Mekkah. Sesudah beberapa malam, ketika pembicaraan Quraisy tentang kekalahannya sudah mulai mereda, barulah ia membawa keluar dengan diam-diam dan menyerahkannya kepada Zaid bin Haritsah dan rekannya itu.

Dalam keadaan seperti itu, Abu Sufyan telah bertindak bijaksana sekali hingga dapat mengekang amarah kaum Quraisy yang sedang berkobar-kobar dan sekaligus berhasil juga memenuhi keinginan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengirimkan putrinya ke Madinah.

Belum setahun dari kekalahanya di Badar, kaum Qurasiy telah berhasil mengarahkan kabilah-kabilah yang ada di sekitar Mekkah untuk emerangi Muhammad. Abrang dagangan dari kafilah yang berhasil diselamatkan dari akum muslimin dahulu itu diapakai sebagfai modal utama untuk membiayai peperangan yang akan mereka lancarkan. Pasukan dipimpin oleh Abu Sufyan sendiri. Ia Keluar dengan isterinya, Hindun binti Utbah.

Ternyata, dalam peperangan itu, kaum Quraisy meraih kemenangan karena pasukan panah kaum muslimin melanggar perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam untuk tidak meninggalkan kedudukannya di atas Bukit Uhud. Allah Ta'ala ingin memelihara kaum muslimin yang akan mengemban tugas menyebarkan agama-Nya ke seluruh penjuru dunia, agar mereka senantiasa bersatu padu, tidak bercerai berai, dan selalu kompak dan patuh pada perintah pimpinannya.

Sesudah peperangan usai, Abu Sufyan naik ke atas puncak Gunung Uhud seraya berteriak dengan suara keras, "Peperangan berakhir dengan seri, Perang Badar dengan perang Uhud. Pujalah Dewa Hubal, agamamu telah menang!"

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Wahai Umar, jawablah mereka dan katakanlah, 'Allah Maha Agung. Mayat orang-orang kami di surga dan mayat orang-orang kalian di api neraka".

Sesudah Umar menjawab pertanyaannya, Abu Sufyan berkata kepadanya, "Wahai Umar, mari Anda ke sini!"

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kepada Umar, "Hampirilah, Umar! Apa maunya?"

Umar pergi menghampirinya, lalu Abu Sufyan bertanya, "Saya mohon kepadamu, wahai Umar apakah pasukan kami telah membunuh Muhammad ?"

Umar menjawab, "Demi Allah, tidak. Dia mendengar bicaramu itu hingga kini".

 Ia lalu berkata dengan tegas: "Saya lebih percaya kepadamu daripada Ibnu Qamiah, yang mengatakan ia telah berhasil membunuh Muhammad!"

 Sewaktu ia akan kembali pulang, Abu Sufyan mengatakan lagi, "Kita akan bertemu lagi di tahun yang akan datang di Badar".

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan salah seorang sahabat untuk menjawab tantangan Abu Sufyan itu, "Katakanlah kepadanya, kami akan sambut tantanganmu".

 Abu Sufyan kembali dengan pasukannya. Di tengah jalan, ada seorang yang berkata kepada mereka, "Kita memang telah membunuh banyak pimpinan tertinggi kaum muslimin. Akan tetapi, mengapa kita tidak menumpas sisa-sisanya agar tidak memberikan kesempatan hidup lagi kepada mereka?"

 Abu Sufyan termakan oleh pendapat itu. Akan tetapi, belum sempat ia memutar kepala kudanya, ia melihat Ma'bad bin Ma'bad al-Khuza'i datang dari arah uhud. Abu Sufyan lalu bertanya kepadanya, "Ada kabar apa, wahai Ma'bad?"

 Ia menjawab, "Muhammad dan kawan-kawanya sedang mengejar-ngejar kalian dengan pasukan yang tiada taranya. Orang-orang yang tidak ikut berperang bersamanya, kini sedang berkumpul dan menyesali diri. Mereka dengan perasaan marah akan mengejar kalian dan membalas dendam atas kekejaman yang derita kawan-kawannya".

 Abu Sufyan mengigil ketakutan. Ia bertanya, "Celaka, Apa katamu?"

 Ma'bad berkata lagi, menegaskan: "Menurut pendapat saya, sebaiknya kalian cepat-cepat pulang kembali!"

 Abu Sufyan berkata kepadanya: "Sesungguhnya kami berniat akan kembali dan menumpas sisa tokoh mereka yang masih hidup".

Ma'bad menasehati  mereka, "Saya menasehatimu, janganlah Anda melakukannya!"

 Setelah mendengar nasihat Ma'bad, mereka cepat-cepat kembali pulang ke Mekkah.

 Abu Sufyan telah mengerahkan pasukannya dan mendatangkannya untuk menyerang kaum muslimin di Uhud. Dia juga telah bertindak sebagai panglima tertinggi dalam peperangan ini sehingga banyak sahabat pilihan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam yang tewas karenanya, bahkan ia telah berjanji akan melancarkan serangan lagi tahun depan.

 Lalu, apa yang mungkin dilakukan sedangkan kekayaan, perlengkapan, dan pasukan mereka tidak terbilang banyaknya?

Memang Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf, dan Abu Lahab sudah tewas. Kalau Abu Sufyan termasuk orang yang tewas juga tentu keadaan akan berubah jauh, tentu banyak orang yang menganut Islam dengan terang-terangan.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bermusyawarah dengan para sahabatnya tentang Abu Sufyan; ternyata banyak diantara mereka yang memberikan saran supaya dibunuh saja. Ia bertanggung jawab atas tewasanya para sahabat pilihan di medan Uhud. Jadi, kalau ia di bunuh, ini hanya merupakan qishas semata-mata, bukan suatu tindakan kejahatan. Rasululklah Shallallahu 'alaihi wasallam puas atas hasil musyawarah itu.

Akhirnya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memutuskan untuk mengirimkan Amru bin Umayyah ad-Dhamri dan seorang dari golongan Anshar pergi ke Mekkah untuk membunuh Abu Sufyan.

Kedua orang itu pergi memenuhi perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Amru menceritakan misinya, "Saya keluar bersama rekan saya yang kurang sehat. Saya membawanya diatas untaku hingga mencapai Lembah Ya'jaj, tidak jauh dari Mekkah.

Aku berkata kepada rekanku: "Kita tinggalkan unta kita disini dan kita pergi mencari Abu Sufyan dan membunuhnya. Kalau kamu melihat sesuatu yang mengkhawatirkan, cepat-cepat pergi ke tempat unta itu dan kembali menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan ceritakan apa-apa yang telah terjadi kepadanya, tidak usah memikirkan aku'.

Kami memasuki kota Mekkah. Aku menyandang sebilah Khanjar (belati). Aku sengaja persiapkan kepada siapa-sapa saja yang menghalang-halangiku. Rekanku berkata kepadanya, 'Apakah tidak sebaiknya kita Thawaf dahulu dan Shalat dua raka'at?'

Saya menjawabnya, 'Biasanya penduduk kota Mekkah duduk-duduk di halaman  rumah mereka dan saya mengenali mereka'.

Kami memasuki Baitullah, lalu kami thawaf dan shalat dua raka'at disana, kemudian kami keluar dan melewati tempat mereka duduk-duduk. Ternyata, sebagian dari mereka mengenaliku, lalu berteriak sekeras-kerasnya, 'Itu Amru bin Umayyah'.

Penduduk kota Mekkah keluar mengejar kami dan berkata:' dia tidak datang melainkan utnuk melakukan suatu kejahatan'.

Aku berkata kepada rekanku, 'Selamatkan dirimu!'

Kami melarikan diri keatas gunung, lalu memasuki sebuah gua. Kami bermalam dua hari dua malam disana, menunggu keadaan tenang. Tiba-tiba Utsman bin Malik dengan menunggang kuda ada di pintu goa. Saya keluar dan menikamnya dengan khanjarku. Dia berteriak dengan sekeras-kerasnya sehingga penduduk Mekkah datang menghampirinya, sedangkan saya kembali bersembunyi. Mereka menemukannya sudah dalam keadaan sekarat. Mereka bertanya kepadanya, 'Siapa yang menikammu?'

Dia menjawab, 'Amru bin Umayyah,' lalu ia menghembuskan napas terakhirnya dan tak sempat memberitahukan kepadanya tempat persembunyianku. Kini mereka disibukan mengurusi mayatnya  sehingga tidak sempat mencari tempat persembunyianku. Aku tinggal di gua itu dua hari lagi sampai keadaan menjadi benar-benar tenang.

Setelah itu, kami keluar menuju Tan'im, suatu tempat yang tidak jauh dari Mekkah. Disana, saya menemukam mayat Khubaib tergantung diatas sebuah kayu; disekitarnya terdapat beberapa orang pengawal. Saya menurunkan mayatnya, lalu memanggulnya. Belum sampai empat puluh langkah dari tempatnya, mereka sadar dan mengejar saya. Saya meletakkan mayat Khubaib dan melarikan diri, sampai mereka tidak mengejarku lagi. Adapun rekanku telah kembali dengan mengendarai untanya dan menceritakan apa-apa yang dilihatnya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam mengenai mayat Khubaib, sejak saat itu tidak terlihat lagi, seolah-olah telah di telan bumi".

Dikisahkan bahwa Abu Sufyan berkata kepada Khubaib ketika hendak dibinihnya, "Ya Khubaib, maukah kau kalau  menggantikan tempatmu sekarang, akan kami penggal batang lehernya sedangkan aku duduk dengan keluargaku."
Abu Sufyan terheran-heran, "Belum pernah aku melihat ada seseorang yang mencintai seseorang lebih dari sahabat Muhammad mencintai Muhammad." Dia pun lalu dibunuhnya.

Sudah menjadi takdir Allah Ta'ala bahwa Abu Sufyan tidak mati terbunuh. Misi 'Amru bin Umayyah gagal untuk membunuhnya. Abu Sufyan hidup dan berkesempatan untuk mengerahkan para kabilah Arab untuk memerangi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam. Kali ini, ia bertujuan untuk menyerang kota Madinah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mencium rencana jahat mereka, lalu baginda memerintahkan kaum muslimin untuk menggali parit sesuai dengan saran Salman al-Farisi radhiallâhu 'anhu. Begitu parit itu selesai digali, pasukan Quraisy dibawah pimpinan Abu Sufyan tiba, tetapi mereka tidak berhasil menerobos kota Madinah. Mereka mendirikan perkemahannya di luar parit itu. Pada saat itu, kaum muslimin menghadapi musuh baru dari Madinah yaitu kaum Yahudi. Pada waktu itu Huyai bin Ahthab datang menemui Ka'ab bin Asad, pimpinan baru Quraizhah. Dia sudah mengadakan perjanjian dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam atas nama kaumnya. Ia lalu menutup pintu bentengnnya dan tidak memberi izin kepada Huyai untuk memasukinya, seraya berkata, 'Kau seorang yang sial. Saya sudah mengadakan perjanjian dengan Muhammad dan ternyata dia tetap setia dengan perjanjiannya itu".

Huyai menjawab, "wahai Ka'ab, saya datang membawa berita gembira dan kemuliaan abadi. Saya datang kepadamu dengan membawa pimpinan Quraisy dan Ghathafan. Mereka sudah berjanji kepadaku untuk tidak akan meninggalkan negeri ini sebelum menumpas Muhammad dan para sahabatnya".
Ka'ab menjawab: "Kalau begitu, kau telah mengundang kehinaan abadi!" Celaka kau, wahai Huyai, biarkanlah aku bersama dengan Muhammad!"

Akan tetapi, Huyai tidak membiarkan Ka'ab melepaskan diri dari cengkramanannya, sampai ia mau melanggar perjanjian yang telah dibuat dengan Muhammad  Shallallahu 'alaihi wasallam . Dia mengadakan perjanjian dengan Huyai, "Kalau sampai Quraisy dan Ghathafan kembali dan tidak berhasil menumpas Muhammad, saya akan berjanji memasuki bentengmu dan hidup senasib dengan kau!"

Pada saat itu, kaum muslimin menderita ketakutan yang luar biasa  karena  harus menghadapi dua front: Quraisy dan Ghathafan dari luar serta Yahudi Bani Quraizhah dari dalam, seperti yang dilukiskan dalam Al-Qur'an:

"(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ketenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat." (QS. Al-Ahzab: 10-11)

Malapetaka ini terjadi karena lebih dari dua puluh malam, kedua pasukan yang sudah berhadapan itu tidak dapat berbuat selain menggunakan panahnya  masing-masing. Tiba-tiba Nu'aim bin Mas'ud al-Asyja'i datang menemui Rasulullah  Shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku ini sudah masuk Islam, tetapi kaumku belum ada yang tahu. Perintahlah aku sesuka hatimu".

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Kamu hanya sendirian. Lakukanlah apa yang mungkin kamu lakukan untuk menyelamatkan kami karena peperangan itu tipu daya".

Nu'aim  lalu pergi menemui tokoh-tokoh bani Quraizhah. Kebetulan di zaman jahiliyyah, mereka bersahabat . Nu'aim berkata kepada mereka: "kalian sudah mengetahui hubungan baik antara aku dan kalian".

Mereka menjawab: "Memang, kami tidak mempunyai kecurigaan sedikitpun terhadapmu".

Lalu, sambungnya lagi, "Kalian telah membela Quraisy dan Ghathafan melawan Muhammad padahal mereka tidak senasib dengan kalian. Negeri ini adalah tanah airmu; disana terdapat kekayaan, anak-anak, dan isteri-isterimu, dan kalian tidak mungkin bisa meninggalkan semua itu, sedangkan Quraisy dan Ghathafan, kalau mereka melihat kemenangan, mereka akan ribut, kalau mereka melihat lain dari itu, mereka akan melarikan diri ke negeri mereka dan meninggalkan kalian menjadi makanan empuk Muhammad dan kalian pasti tidak akan sanggup melawannya. Janganlah kalian memeranginya sebelum kalian mendapat jaminan dari tokoh-tokoh mereka agar kalian yakin bahwa mereka tidak akan meninggalkan kalian sebelum mereka berhasil menumpas Muhammad".

Mereka menjawab, "Sungguh, nasihatmu itu tepat sekali!"

Kemudian Nu'aim pergi menemui Abu Sufyan dan tokoh Quraisy lainya, seraya berkata, "Kalian sudan mengetahui hubungan baikku dengan kalian dan kerengganganku dengan Muhammad. Saya mendengar bahwa Bani Quraizhah menyesali tindakannya dan mereka telah mengirim delegasi kepada Muhammad dan menanyakan, 'Apakah Anda mau menerima kalau kami  meminta jaminan tokoh-tokoh Quraisy dan Ghathafan, kemudian kami serahkan kepada Anda untuk dipenggal batang leher mereka, kemudian kami dan anda memperkuat persahabatan yang telah ada?"

Tampaknya, tawaran mereka itu diterima baik. Jadi, kalau mereka meminta jaminan tokoh-tokoh kalian, janganlah kalian memenuhinyya meskipun hanya seorang saja".

Nu'aim  lalu pergi menemui pimpinan Ghathafan dan berkata, "Kalian terbilang keluarga dan familiku sendiri". Ia lalu memperingatkan  mereka seperti yang disampaikan kepada pimpinan Quraisy.

Begiru Nu'aim pergi, Abu Sufyan mengirimkan delegasinya dibawah pimpinan Ikrimah bin Abu Jahal untuk menemui pimpinan Bani Quraizhah, seraya berkata kepada mereka, "Kami tidak bisa berlama-lama di sini. Kita harus segera melancarkan peperangan untuk menumpas Muhammad".

Ternyata jawaban mereka persis seperti yang dikatakan Nu'aim, "Kami tidak bersedia berperang bersama dengan kalian kecuali kalau kalian mau  memberi jaminan yang meyakinkan kepada kami. Kami khawatir, kalian akan segera kembali ke negeri kalian dan membairkan kami menjadi umpan Muhammad sedang kami berada di negerinya".

Delegasi Ikrimah kembali dari perkampungan Bani Quraizhah  dengan tangan hampa. Ia menyampaikan kepada Abu Sufyan semua yang didengarnya. Lalu, sambut Abu Sufyan, "Demi Allah benar sekali apa yang dikatakan  Nu'aim bin Mas'ud!"

Abu Sufyan lalu mengirimkan jawaban tegas kepada Bani Quraiszah, Demi Allah kami tidak akan menyerahkan tokoh-tokoh kami seorangpun juga!"

Kisah Teladan Abu Sufyan Bin Harb r.a | KISMATku

Subscribe Our Newsletter