RASULULLAH S. A. W. BERSABDA:
" Siapa yg tubuh- nya tumbuh dari yg haram, maka dia lebih layak jadi umpan api neraka"
Memandang apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah membuat air liur Tsabit terbit, terlebih di hari yang panas serta tengah kehausan. Hingga tanpa berfikir panjang dipungut serta dimakanlah buah apel yang lezat itu, hendak namun baru setengahnya di makan ia teringat kalau buah itu bukan miliknya serta ia belum menemukan izin pemiliknya.
Hingga dia lekas berangkat kedalam kebun buah- buahan itu hendak menemui pemiliknya supaya memohon dihalalkan buah yang sudah dimakannya. Di kebun itu dia berjumpa dengan seseorang lelaki.
Hingga langsung saja ia mengatakan," Saya telah makan separuh dari buah apel ini. Saya berharap kamu menghalalkannya".
Orang itu menanggapi," Saya bukan owner kebun ini. Saya penjaganya yang ditugaskan melindungi serta mengurus kebun ini".
Dengan nada menyesal Tsabit bin Ibrahim bertanya lagi," Dimana rumah pemiliknya? Saya hendak menemuinya serta memohon supaya dihalalkannya apel yang sudah ku makan ini."
Pengurus kebun itu memberitahukan," Apabila engkau mau berangkat kesana maka engkau mesti menempuh perjalanan satu hari semalam".
Tsabit bin Ibrahim berniat hendak berangkat menemui sang pemilik kebun itu. Katanya kepada orang tua itu," Tidak mengapa. Saya bakal senantiasa berangkat menemuinya, walaupun rumahnya jauh. Saya sudah memakan apel yang tidak halal bagiku sebab tanpa izin pemiliknya. Bukan- kah Rasulullah s. a. w. telah memperingat- kan kita lewat sabda- nya:" Siapa yg tubuh- nya tumbuh dari yg haram, maka dia lebih layak jadi umpan api neraka"
Tsabit bin Ibrahim berangkat pula ke rumah pemilik kebun itu, serta setiba di situ ia langsung mengetuk pintu. Sehabis sang pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung berikan salam dengan sopan, seraya mengatakan,
" Wahai tuan yang pemurah, aku telah terlanjur makan separuh dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Sebab itu maukah tuan menghalalkan apa yang telah ku makan itu?"
Lelaki tua yang terdapat dihadapan Tsabit mengamatinya dengan teliti. Kemudian ia mengatakan seketika," Tidak, saya tidak boleh menghalalkannya kecuali dengan satu syarat."
Tsabit bin Ibrahim merasa takut dengan syarat itu sebab khawatir dia tidak bisa memenuhinya.
Hingga lekas dia bertanya," Apa syarat itu tuan?" Orang itu menanggapi," Engkau mesti menikahi putriku!"
Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud serta tujuan lelaki itu, hingga ia mengatakan," Apakah sebab hanya saya makan separuh buah apelmu yang keluar dari kebunmu, saya mesti menikahi putrimu?"
Namun pemilik kebun itu tidak mempedulikan persoalan Tsabit bin Ibrahim. Dia malah menambahkan, katanya,
" Saat sebelum perkawinan dimulai engkau mesti ketahui dahulu kekurangan- kekurangan putriku itu. Ia seseorang yang buta, bisu, serta tuli. Lebih dari itu dia pula seseorang yang lumpuh!"
Tsabit bin Ibrahim amat kaget dengan penjelasan sang pemilik kebun. Ia berfikir dalam hatinya, apakah wanita semacam itu pantas ia persunting sebagai istri gara- gara separuh buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya?
Setelah itu pemilik kebun itu melaporkan lagi," Selain syarat itu saya tidak bakal menghalalkan apa yang sudah kau makan!"
Tetapi Tsabit bin Ibrahim setelah itu menanggapi dengan mantap,
" Saya bakal menerima pinangannya serta perkawinanya. Saya sudah berniat akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul alamin. Untuk itu saya bakal penuhi kewajiban- kewajiban serta hak- hakku kepadanya sebab saya amat berharap Allah senantiasa meridhaiku serta mudah- mudahan saya bisa menambah kebaikan- kebaikanku di sisi Allah Taala".
Hingga perkawinan pun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan 2 saksi yang bakal melihat akad nikah mereka. Setelah perkawinan selesai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya.
