KISAH MANFAAT: Renungan


HUKUMAN YANG TIDAK TERASA

بِسْـــــــــــــــــــــمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم

Seseorang murid mengadu kepada gurunya:

" Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah serta tidak menunaikan hakNya sebagaimana mestinya, tetapi aku kok tidak lihat Allah menghukum kita???"

Si Guru menanggapi dengan tenang:

" Betapa kerap Allah menghukummu tetapi engkau tidak terasa"

" Sebetulnya salah satu hukuman Allah yang terbanyak yang dapat menimpamu wahai anakku, yakni:

Sedikitnya taufiq( kemudahan) buat mengamalkan ketaatan serta amal amal kebaikan"

Bukanlah seorang diuji dengan bencana yang lebih besar dari" kekerasan hatinya serta kematian hatinya".

Bagaikan contoh:

Sadarkah engkau, kalau Allah sudah mencabut darimu rasa senang serta bahagia dengan munajat kepadaNya, merendahkan diri kepadaNya, menyungkurkan diri cuma kepadaNYA?

Sadarkah engkau tidak dikasih rasa khusyuk dalam shalat..?

Sadarkah engkau, kalau sebagian hari hari mu sudah lalu dari hidup kamu, tanpa membaca Al- Quran, sementara itu engkau mengenali jika itu merupakan firman ataupun perkataan penciptamu sebagaimana

Allah SWT berfirman:

لَوْ أَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْآنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خٰشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللهِ

وَتِلْكَ الْأَمْثٰلُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

LAU ANZALNAA HAAZAL- QUR`AANA ALAA JABALIL LARO`AITAHUU KHOOSYIAM MUTASHODDIAM MIN KHOSY- YATILLAAH, WA TILKAL- AMSAALU NADHRIBUHAA LIN- NAASI LAALLAHUM YATAFAKKARUUN

" Sekiranya Kami turunkan Al- Quran ini kepada suatu gunung, tentu kalian hendak melihatnya tunduk terpecah- belah diakibatkan khawatir kepada Allah. Serta perumpamaan- perumpamaan itu Kami buat buat manusia supaya mereka berpikir."( QS. Al- Hasyr 59: Ayat 21)

Tetapi engkau tidak tersentuh dengan Ayat Ayat Al- Quran, seolah engkau tidak mencermatinya...

Sadarkah engkau, sudah lalu sebagian malam yang panjang lagi engkau tidak melaksanakan Qiyamullail di hadapan Allah, meski terkadang engkau tidur sampai larut malam...

Sadarkah engkau, kalau sudah lalu atasmu masa masa kebaikan semacam: Ramadhan.. 6 hari di bulan Syawwal.. 10 hari awal bulan Dzulhijjah, dst.. tetapi engkau belum diberi taufiq buat memakainya sebagaimana mestinya..??

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari itu..???

Kala engkau merasakan beratnya mengamalkan banyak ketaatan amal ibadah..???

Allah menahan lidahmu buat berdzikir, beristighfar, membaca al- quran serta berdoa kepadanya..???

Terkadang engkau merasakan kalau engkau lemah di hadapan hawa nafsu..???

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari seluruh ini..???

Sadarkah engkau, malah yang di mudahkannya bagimu merupakan wujud wujud kezdaliman mengunjing, mengumpat, mengadu domba, berdusta, memandang rendah orang lain dan bahagia memandang serta memandang kepada yang haram haram..???

Sadarkah engkau, kalau Allah membuat kamu kurang ingat kepada Akhirat, kemudian Allah menjadikan dunia bagaikan atensi terbesarmu serta ilmu paling tinggi..???

Seluruh wujud pembiaran tersebut dengan bermacam wujudnya yg melalaikan dirimu, semacam seperti itu sebagian wujud hukuman Allah kepadamu, lagi engkau tidak menyadarinya...

Waspadalah, supaya engkau tidak terjatuh ke dalam dosa dosa serta meninggalkan kewajiban kewajiban. Sebab hukuman yang sangat ringan dari Allah terhadap hambaNya yakni:

" Hukuman yang terasa" pada harta, istri ataupun anak, ataupun kesehatan.

Sebetulnya hukuman terberat yakni:" Hukuman yang tidak terasa" pada kematian hati, kemudian kita tidak merasakan nikmatnya ketaatan, serta tidak merasakan sakitnya dosa.

Sebab itu perbanyaklah di sela sela harimu amalan kebaikan serta beristighfar, mudah- mudahan Allah Swt senantiasa menghidupkan hati kita. 

~~~ Aamiin ~~~



Hukuman Allah Yang Nyata Namun Kita Tidak Merasa | KISMATku


Renungan

Dalam waktu relatif singkat, Islam berhasil memurnikan kejiwaan umat Islam dan menghilangkan cemar dan kotoran yang semula bermukim dalam batinnya, sehingga ia menjadi manusia baru, tidak berbohong, tidak mencuri, tidak berzina, tidak berkhianat, tidak curang, tidak suka memata-matai orang lain, ikhlas kepada aqidahnya lebih dari ikhlashnya kepada dirinya, patuh kepada perintah Allah dan RasulNya, setia kawan dan cinta kepada sesama saudaranya dalam Islam lebih dari setia kawannya terhadap keluarga dan kerabat sendiri, selama mereka tidak Islam.

 Ketika firman Allah dalam surah at-Taubah ayat 24 diturunkan (Katakanlah, 'jika ayah-ayah, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalannya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq'). Sejak itulah kaum Muslimin mengesampingkan semua kelezatan. Kelemahan insani terhadap ayah, anak, isteri, keluarga, harta kekayaan dan semua tuntutan hajat kemanusiaan, mereka letakkan semua itu diatas piring timbangan; kecintaaan kepada Allah, RasulNya, dan jihad di jalan Allah, mereka letakkan diatas piring timbangan yang lain. Ternyata, kecintaan mereka lebih berat kepada yang kedua. Dengan sendirinya, jiwa mereka menjadi terhormat dan meningkat, tidak suka bergelimang dengan nafsu hewani dan melepaskan diri dari keterikatan sifat bumi.

 Berikut ini contoh-contoh yang kami kutip dari sejarah kaum muslimin.

1.   Umar bin Sa'ad diasuh oleh bapak tirinya, Jullas bin Suwaid ibnush Shamit, setelah ayahnya wafat.

Pada suatu hari, ia mendengar Jullas menyerang Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dengan kata-kata yang pedas, lalu ia menegur ayah tirinya itu, "Demi Allah, ya Jullas, engkau orang yang paling aku cintai, orang yang paling murah hati dan orang yang paling aku sayang jangan sampai terkena malapetaka. Akan tetapi, engkau mengatakan kata-kata yang menyakitkan hatiku. Kalau aku melawanmu, itu akan membuat kamu malu, tapi kalau aku diam, agamaku akan rusak dan kedua-duanya berat bagiku…"

Ia lalu meninggalkan rumahnya, pergi kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan memberitahukan soal Jullas kepada beliau. Demikianlah ia memenangkan ikatan agama diatas ikatan kekeluargaan dan dunia, meskipun ia menghadapi risiko kekurangan dan kelaparan.

2.   Ketika Zaid bin Datsinah hgendak dibunuh oleh kaum Quraisy, Abu Sufyan bin Harb menawarkan pembebasan kepadanya, "aku mengharap kau menjawab karena Allah, ya Zaid! Apakah kau senang sekiranya Muhammad ada disini menggantikan tempatmu dan kami penggal batang lehernya sedangkan kau akan kami bebaskan tinggal bersama keluargamu?".

Zaid menjawab dengan tegas, "Demi Allah, aku tidak suka Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam terikena tusukan sebuah duri sekalipun dan kau bebas di tengah-tengah keluargaku".

Komentar Abu Sufyan kepada kawan-kawannya, "aku belum pernah melihat seseorang yang mencintai orang lain seperti para shahabat Muhammad kepada Muhammad".

Kemudian mereka membunuh Zaid .  Zaid syahid, namun, "sekolah keimanan" berhasil mengeluarkan ribuan kaum muslimin yang men cintai agama dan RasulNya lebih dari dirinya sendiri.

3.   Dalam sebuah pertempuran, seorang Anshar bertengkar dengan seorang Muhajirin, lalu Abdullah bin Ubay, tokoh tertinggi kaum munafik, mengancamnya, "kalau kami kembali ke Madinah kelak, orang yang merasa dirinya terhormat akan diusir keluar oleh orang yang dihinakannya".

Banyak orang Islam menawarkan diri untuk membunuh Abdullah bin Ubay, tetapi Rasulullah selalu menolaknya. Sabdanya kepada Umar ibnul Khaththab, "ya Umar, bagaimana kata bangsa Arab kelak, Muhammad membunuh shahabatnya sendiri".

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam lalu memanggil putra Abdullah bin Ubay seraya bertanya, "apakah kau mendengar apa yang dikatakan ayahmu?".

Ia balik bertanya keheranan, "apa katanya, ya Rasulullah?".

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Dia mengatakan, 'kalau kami kembali ke Madinah kelak, orang yang merasa dirinya terhormat akan diusir keluar oleh orang yang dihinakannya".

Ia lalu berkata dengan gusar, "Allah dan RasulNya Maha benar, dan engkau, ya Rasulullah, demi Allah adalah orang terhormat dan mulia, dan dia adalah orang yang terhina. Sebenarnya penduduk kota Yatsrib tahu bahwa tidak seorang pun yang paling kasih sayang kepada kedua orang tuanya lebih dari aku, namun kalau Allah dan RasulNya menghendaki, aku siap membawa kepala keduanya kesini".

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menjawab : "jangan!".

Ketika pasukan kembali ke Madinah, Abdullah bin Abdullah bin Ubay berdiri di pintu masuk kota Madinah dengan pedang terhunus, menantikan kedatangan ayahnya, seraya berkata, "ayahkah yang mengatakan, kalau kami kembali ke Madinah kelak,  orang yang merasa dirinya terhormat akan diusir keluar oleh orang yang terhina? Demi Allah, kini, ayah akan mengetahui apakah orang yang terhormat itu ayah atau Rasulullah. Demi Allah, aku tidak akan memperkenankan ayah masuk kota kecuali dengan izin Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam …".

Renungan Dari Abu 'Ubaidah Ibnul Jarrah r.a | KISMATku


Renungan

Dirirwayatkan oleh 'Urwah bin az–Zubair bahwa Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam :"Ya Rasulullah, apakah engkau pernah merasa menghadapi kesulitan lebih dahsyat dari pada Perang Uhud?"

Beliau menajwab, "Aku telah menghadapi berbagai kesulitan yang lebih dahsyat dari kaummu, terutama ketika aku menawarkan Islam pada hari Aqibah kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kulal, namun dia tidak menjawab sepatah katapun. Kemudian, aku pergi dengan perasan pedih dan sedih. Aku tidak sadar, tiba-tiba aku tiba di Qarnits Tsa'alib. Ketika aku mengangkat kepalaku, tiba-tiba aku melihat awan sedang memayungiku dan mendengar Jibril memanggilku, 'Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar omongan kaummu dan reaksi mereka terhadap tawaran-tawaranmu, dan Dia telah mengirimkan Raja Pegunungan kepadamu agar kamu memerintahkan kepadanya apa yang kamu inginkan terhadap kaummu itu!"

Ujar Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam selanjutnya: "Lalu, Raja Pegunungan itu  mengucapkan salam kepadaku dan berkata, 'Ya Muhammad, Allah Ta'ala telah mendengar omongan-omongan kaummu terhadapmu. Aku Raja Pegunungan, Rabbmu telah mengutusku kepadamu untuk diperintahkan sesuai dengan yang kamu inginkan. Kalau kamu mau, aku akan menimpakan pegunungan ini di atas mereka!'

Aku menjawab, 'Tidak, malah aku berharap Allah Ta'ala akan melahirkan dari mereka itu orang-orang yang akan menyembah Allah dan tidak musyrik sedikitpun kepada-Nya".

Siapa gerangan mereka selalu menghalang-halangi penyebaran dakwah dan menyakiti hati Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam itu? Siapa gerangan orang yang senantiasa menyiksa kaum mustadh'afin di Mekkah dan lain-lain, setelah mereka memaklumatkan Islamnya? Siapa gerangan mereka yang telah mengusir Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam keluar dari kampung halamannya dan menghalang-halangi penyebaran dakwahnya?

Sejarah mencatat nama-nama mereka dan tidak akan melupakannya. Mereka telah mendongakkan kepalanya, menutup rapat pintu hatinya, memejamkan matanya sehingga tidak melihat cahaya kebenaran memancar di hadapannya, dan memalingkan perhatian dari tanda-tanda hidayah dan keimanan.

Adapun tokoh-tokoh sesat yang paling terkenal di antara mereka ialah: Abu Jahal (al-Hakam bin Hisyam), Utbah bin Ra'biah, Syaibah bin Ra'biah, al-Walid bin Uqbah, Umayyah bin Khalaf, Uqbah bin Mu'ith dan Abu Sufyan bin Harb.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidak mau mengutuk dan mendoakan kaumnya agar mendapat siksa seperti halnya umat para nabi yang terdahulu, setelah mereka tetap membangkang tidak mau menyambut dakwah para nabi mereka.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bisa saja meneladani para nabi yang sebelumnya, memohon kepada Rabbnya untuk menghukum kaumnya yang jahat dan angkara murka itu, namun baginda sebagai Nabiyur-rahmah hanya bisa mengucapkan: " semoga Allah akan melahirkan dari mereka keturunan yang mengabdikan diri kepada Allah!"

Renungan Dari Abu Sufyan Bin Harb r.a | KISMATku


Renungan

Amanat adalah salah satu keutamaan seorang muslim yang lahir dari akidahnya dan yang membuktikan pada kejujuran hidupnya dan kemuliaan tujuannya. Karena itulah, amanat merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari keimanan dan berkhianat sebagai pertanda ingkar dan kafir, seperti yang dikatakan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam.

"Tidak beriman siapa yang tidak memiliki amanat dan tidak beragama siapa yang tidak bisa dipegang janjinya".

Amanat merupakan salah satu sifat orang baik dan salah sebuah unsur kesempurnaan pribadi, firman-Nya:
"Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya". ( al-Mu'minuun:8)

Dibawakan oleh Ubadah bin ash-Shamit radhiallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

"Jamin untukku enam perkara, aku akan menjamin untuk kalian surga: 1). berbicaralah dengan jujur, 2). Tepatilah janjimu, 3). Tunaikanlah amanatmu, 4). Tundukanlah pandanganmu, 5). Peliharalah kemaluanmu, dan 6). Peliharalah tangan (tindakkan)mu".

Memisahkan diri dari keutamaan itu berarti memisahkan orang tersebut dari semua keutamaan, meskipun tidak bisa disangkal bahwa anak-anak Adam adalah pelaku kesalahan. Hal itu merupakan tabiat manusia yang tidak bisa di ingkari lagi dan tidak mungkin bisa ditutup-tutupi.

Bertolak dari sanalah dicurahkan perhatian Allah kepada manusia ini, manusia yang kepadanya Allah memerintahkan malaikat-Nya bersujud, Yang mengangkatnya menjadi khalifah-Nya dimika bumi, dan yang memuliakannya diatas semua mahluk-Nya serta dipercaya untuk memakmurkan alam ini.

Manusia bisa meningkatkan harkat dan martabat ke kelas malaikat kalau ia berpegang teguh kepada ajaran Agama Islam, namun ia bisa saja merosot ke kelas setan kalau ia menjauhkan diri dari ajaran Allah. Hikmah Allah menetapkan karena kasih-Nya kepada manusia-untuk mengirimkan para rasul dan munurunkan beberapa buah  Kitab-Nya adalah untuk menggiring manusia itu ke jalan-Nya yang lurus. Kalau sudah agak lama tidak turun nabi atau rasul, lalu manusia beranggapan bahwa selama masa itu tidak ada hisab dan tidak ada hukuman.

Karena itulah, manusia selalu diberi peringatan supaya tidak terjerumus ke dalam tindakan yang di haramkan Rabbnya, yang selalu diperintahkan untuk dijauhinya, Firman-Nya:

"Dan tetaplah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman". (adz-Dzaariyaat:55)

"Maka berilah peringatan karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan". (al-Ghaasyiyah:21)

Shalat yang di wajibkan sehari semalam lima waktu itu untuk mendekatkannya dengan Rabbnya, untuk senantiasa mengingatkan dan menyadarkannya.

Sungguhpun begitu, manusia selalu tergoda oleh gemerlapnya kehidupan duniawi ini. Ia mudah dibujuk rayu oleh setan untuk meninggalkan ajaran Rabbnya. Akhirnya, ia pun tersesat. Akan tetapi, kalau dalam hati nuraninya masih terdapat setitik keimanan, ia masih mudah digiring kembali ke jalan Allah, lalu ia kembali bertobat dan beristighfar kepada Rabbnya, Firman-Nya:

"Katakanlah Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri: 'janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang .'"(az-Zumar:53)

Berkat ampunan dan kasih sayang Allah Ta'ala, manusia yang semula berlumuran dosa itu menjadi seorang maKhluk yang paling mulia, sesuai dengan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam,"Sebaik-baik pelaku kesalahan ialah yang bertobat".

Renungan Dari Abu Lubabah Bin Abdil Mundzir r.a | KISMATku


Renungan

Kami ucapkan selamat kepadamu, sahabat Rasulullah, atas darmabaktimu terhadap agama Islam dan  kaum muslimin, dan dengan ganjaransurga Tuhanmu yang kau raih.

Seorang yang buta matanya, tetapi tajam matahatinya. Allah Ta'ala mengabadikan namanya dalam Al-Qur'anul Karim, sekaligus diproklamasikan berdirinya suatu negara orang-orang saleh yang berbudi luhur, suatu negara pemeluk Ilahi di muka bumi. Ia sebagai proklamasi bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan harus ditegakkan. Hak asasi manusia untuk bersaing secara sehat dan untuk mendapatkan persamaan dan keadilan dijamin untuk merealisasikan firman-Nya, "Sesungguhnya orang-orang yang termulia di antara kalian di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa."

Renungan Dari Abdullah Ibnu Ummi Maktum r.a | KISMATku


Renungan

Di sebelah Baitullah al-Haram, rumah yang Allah jadikan daerah aman dan damai bagi hamba-hambaNya, menyambut doa bapak para nabi, Ibrahim 'alaihissalam "Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa". (Q,.s. al-Baqarah: 126). Di sana, Asma', ibu Ammar dan Yasir, ayahnya, dibunuh dengan keji dan kejam, bukan karena berdosa tapi semata-mata karena keduanya menyatakan "Tuhan kami hanya Allah".

Di daerah yang Allah tetapkan sebagai daerah aman dan damai secara mutlak dari semua sengketa, peperangan dan pertengkaran, supaya mereka kembali sadar dan menginsafi apa yang tepat dan benar, hidup bersaudara dan berdampingan di dalam daerah itu, oleh kaum Quraisy dijadikan ajang pembunuhan sekelompok orang yang tiada berdaya dan berdosa.

Mereka dipaksa keluar dan menyimpang dari agamanya. Mereka dilarang mengikuti pelajaran yang diberikan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam.

Allah sudah menetapkan bahwa daerah Masjid al-Haram dan sekitarnya itu semacam daerah margasatwa, dimana  burung-burung bebas beterbangan tanpa rasa takut, dimana hewan, manusia dan bahkan serangga bisa hidup berdampingan secara aman dan damai tanpa rasa takut satu dengan yang lainnya. Mengapa negeri yang telah ditetapkan menjadi daerah aman dan damai berubah menjadi daerah yang menakutkan dan penuh kengerian. Daerah bebas merdeka itu berganti menjadi daerah perbudakan, dimana kebebasan orang memilih agama dan hak mengamalkan keyakinannya dibatasi dan dihalang-halangi.

Menyambut seruan agama tauhid yang dikumandangkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dicap sebagai kafir dan murtad karena keluar dari agama nenek moyang yang percaya kepada berhala-berhala ; Latta, 'Uzza dan Manat yang dideretkan di sekitar Ka'bah.

Renungan Dari Abdullah Bin Jahsy r.a | KISMATku


Renungan

Abas bin Abdul Muththalib radhiallâhu 'anhu, paman Rasululah Shallallâhu 'alaihi wasallam dan saudara kandung ayahnya, termasuk salah seorang tokoh shahabat yang ikut mengibarkan panji Islam dan menyebarkan dakwahnya.

Sepak terjangnya dicatat sejarah dengan tinta emas dalam baiat al-Aqabah al-Kubra, ia bertindak sebagai seorang penasihat dan perunding ahli, menyertai keponakannya dalam majelis itu, membentangkan sikapnya dengan tepat, dan mengamati sikap kaum Anshar yang hendak menerima kedatangannya ke Madinah dengan cermat.

Ia memberikan gambaran kepada mereka akan bahaya dan resiko yang akan mereka hadapi sepanjang hidup mereka  jika menerima Muhammad Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Bangsa Arab tidak akan membiarkan Muhammad dan dakwahnya berkembang dengan mulus kecuali kalau mereka terpaksa.

Pada akhir perundingan, sesudah ia yakin bahwa kaum Anshar dari Yastrib itu terdiri atas para pahlawan yang berbudi luhur yang bisa dipercaya dan menerima keponakannya, barulah ia bangkit mempertemukan tangan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam dengan tangan wakil kaum Anshar itu sebagai tanda baiat disetujui dan janji setia dimulai, disertai doa harap kepada Allah Subhanahu wata'ala  mudah-mudahan persekutuannya yang luhur akan melindungi agama-Nya dan Dia memberi taufiq dan hidayah-Nya.

Ketika Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam. Hijrah ke Yastrib, Abbas menyatakan hasratnya akan menyusul ke sana. Akan tetapi, beliau mencegahnya dan menganjurkan supaya tinggal di Makkah saja dulu supaya bisa mendukung semangat kaum mustadh'afin di Mekah yang belum bisa hijrah meninggalkan Mekah.

Abbas patuh kepada perintah Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Itu. ia tinggal di Mekkah bersama kelompok kaum muslimin yang belum sanggup pergi berhijrah, menyiapkan kesempatan dan bekal mereka, menutup utang-utang mereka, mengamati gerak-gerik kaum Quraisy supaya selalu diketahui Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam.dan tidak bisa mengadakan serangan mendadak kepada mereka.

Pada permulaan Islam, Abbas banyak melunasi utan kaum muslimin yang fakir misjkin. Pada zaman kita sekarang ini, alangkah perlunya kita kepada seorang Abbas modern yang sudi menyelamatkan umat agar tidak menjadi mangsa pengikut komunis dan kapitalis Barat, dan berdiri tegak membendung invasi ideologi dan kristenisasi di kalangan kaum muslimin.

Ia menjadi tawanan dalam Perang Badar, ia diborgol dan diringkus bersama tawanan yang lain. Ketika borgolnya dilonggarkan, para tawanan yang lain pun harus dilonggarkan.

Tawanan lain harus, membayar uang tebusan, Abbas pun harus membayar uang tebusan diri dan keluarganya. Itulah Islam, tidak ada sistem famili atau keluarga, tidak mengutamakan kawan atau kenalan. Tolak ukur keutamaan seseorang hanyalah karena ketakwaan dan amal salehnya.

Pada suatu hari, Khalifah Umar ibnul Khaththab yang terkenal sebagai penakluk kekaisaran Romawi dan Persia itu, mencabut pancuran air dari rumah Abbas. 
Sesudah diberitahukan bahwa pancuran itu dahulu dipasang oleh kedua tangan Rasulullah sendiri. Umar menggigil ketakutan; apakah ia akan menyingkirkan apa yang diletakkan Rasulullah? Beranikah ia membongkar apa yang dibangun Rasulullah? Umar resah dan gelisah atas perbuatannya. Ia mengumpat dan mengutuk kelancangannya itu. Barulah ia puas sesudah Abbas menerima baik sarannya untuk mengembalikan pemasangan pancuran.

Tiba giliran Umar untuk memperluas masjid Nabawi. Sebagai khalifah kaum muslimin, sebagai panglima Angkatan Perang Islam, ia mempunyai kekuatan penuh untuk merampas dan mengganti rugi dari Baitul mal, demi kepentingan kaum muslimin, selama tidak bertentangan dengan hukum agama.

Sikap Umar untuk menggusur rumah Abbas itu rupanya kurang berkenan di hatinya, meskipun ia akan diganti rugi. Ia tidak mau menjual apa yang diberikan Rasulullah itu dan tidak sudi menerima ganti ruginya. Ia berikan sebagai sedekah karena Allah, demi kepentingan kaum muslimin, sesudah Umar bersikap lemah-lembut tidak disertai paksaan dan kekuasaannya.

Renungan Dari Abbas bin Abdul Muththalib r.a | KISMATku

Subscribe Our Newsletter